Manisnya Usaha Petani Madu Geragai jadi Penjaga Ekosistem di Tengah Krisis Lingkungan Jambi
sibanyu, 17 Oct 2025
Reni A
Proses pemanenan madu oleh Kelompok Lebah Madu Sabak.
TANJUNG JABUNG TIMUR, JAMBI — Warga dari tiga desa Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, yakni Pandan Lagan, Suka Maju, dan Rantau Karya, membuktikan bahwa solusi terhadap kerusakan lingkungan bisa muncul dari desa melalui budidaya lebah madu yang berkelanjutan dan berkeadilan sosial, di tengah ancaman krisis populasi lebah dan meluasnya konversi lahan menjadi kebun sawit serta Hutan Tanaman Industri (HTI) di Provinsi Jambi.
Melalui semangat kebersamaan warga desa, selain memproduksi madu, mereka juga menghidupkan kembali hutan, menciptakan produk turunan ramah lingkungan, dan mencetak generasi muda peduli lingkungan lewat program ekosistem Beeyond Honey, inisiasi Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang.
Bangkit dari Titik Nol
Ketua Kelompok Budidaya Lebah Madu Sabak, Sutrisno, ditanyai Kamis (16/10/2025) di lokasi budidaya lebah madu, mengaku sempat merasakan masa sulit di tahun 2024, ketika panen madu gagal total. Koloni lebah menyusut drastis, menyisakan hanya 10 kotak koloni.
Alih-alih menyerah, mereka bangkit dan belajar dari kegagalan. "Memahami pola cuaca, belajar dari serangan hama burung dan monyet, hingga berhasil menyiasatinya. Sekarang, kami punya 300 kotak koloni dengan produksi 150 hingga 250 ton madu per bulan," ujarnya.
Selain itu, mereka mengolah limbah lebah menjadi produk bernilai tambah dan menjadikan kegiatan ini sebagai sumber penghasilan sampingan dengan mengedepankan nilai-nilai gotong royong.
Koperasi dan Solidaritas Sosial
Semua produksi dikelola melalui Kelompok dan berujung pada Koperasi Produsen Sukma Jaya Berkah, inisiatif masyarakat dan dukungan PHE Jambi Merang yang memperkuat distribusi serta nilai jual madu. Madu dijual secara curah seharga Rp29.000 per liter lewat marketplace dan tengkulak.
Tak hanya berfokus pada nilai ekonomi, koperasi ini mengumpulkan iuran Rp1.000 per kotak koloni yang kemudian digunakan untuk kegiatan sosial seperti pembagian sembako hingga kegiatan pemuda serta keagamaan. "Usaha ini harus bisa berbagi. Bukan hanya soal untung rugi, tapi tentang kebersamaan dalam komunitas sebagai warga kampung," jelas Sutrisno.
Peran Sentral Perempuan dan Produk Inovatif Desa
Perempuan desa juga memainkan peran penting dalam rantai nilai madu. Di Desa Suka Maju, kelompok ibu-ibu tak hanya membantu produksi madu, tapi juga membuat inovasi kuliner seperti Keripik Masinis (keripik madu pedas manis), Grubi Madu, dan Madu Jantan (jahe instan). Menurut Wakil Ketua BPD Suka Maju, Wahyu Setio Tri Santoso, “sambil ngumpul-ngumpul, ibu-ibu ini bisa menghasilkan uang untuk kemudian dibawa ke rumah.” ujarnya.
"Selain kelompok budidaya binaan PHE Jambi Merang, ada juga warga kelompok tani mandiri ikut bekerjasama dengan Koperasi Sukma Jaya Berkah, jika ditotal seluruhnya sekitar 2.000 kotak koloni. Ini berdampak langsung pada perekonomian rumah tangga dan solidaritas desa," tutupnya.
Lebah sebagai Jembatan Konservasi, Edukasi, dan Budaya
Program Beeyond Honey, terasa dampaknya melalui tiga pilar utama :
Bee at Forest: Petani dilatih menggunakan lebah sebagai bioindikator untuk memulihkan hutan dengan menanam ribuan tanaman penghasil nektar.
Bee at Community : Edukasi publik melalui festival dan kampanye lingkungan di kebun binatang Taman Rimbo.
Bee at School : Di lokasi budidaya lebah madu dijadikan taman eduwisata untuk siswa belajar membudidayakan lebah, memanen madu, hingga memanfaatkan limbah sarang lebah untuk batik alami.
Tak hanya melindungi ekosistem, pendekatan ini memperkenalkan ekonomi sirkular sekaligus melestarikan budaya lokal.
Dari Api ke Harmoni: Sinergi Peternak Lebah dan Penjaga Hutan
Uniknya, masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) juga turut dilatih menjadi peternak lebah. Mereka diajari keterampilan mitigasi bencana dan budidaya lebah, membangun kesadaran bahwa kehancuran ekosistem akibat kebakaran juga mengancam sumber penghidupan mereka sendiri.
"MPA sekarang jadi penjaga hutan sekaligus pelindung lebah. Kombinasi ini memperkuat ketahanan desa terhadap bencana sekaligus ekonomi," kata Officer Community Involvement and Development PHE Jambi Merang, Baskoro Adhi Pratomo.
Dari Desa untuk Bangsa : Masa Depan Pangan Dimulai dari Lebah
Kisah Geragai jadi bukti, bahwa inovasi, solidaritas, dan kearifan lokal bisa menjadi jawaban atas krisis ekologi dan pangan. Di tengah ancaman konversi lahan yang menurut WALHI Jambi telah merambah 70% wilayah hutan, masyarakat desa menjawab dengan solusi yang hidup secara harfiah dan sosial.
Dengan lebah sebagai pusatnya, mereka tak hanya menghasilkan madu, tetapi juga harapan.(rna)
0 Komentar