Pencipta dan Animasi viral "Cuko Boy", karakter superhero lokal khas Palembang, bersiap melompat dari layar media sosial menuju panggung teater, dalam pergelaran bergengsi Festival Batanghari Sembilan.

Pencipta dan Animasi viral "Cuko Boy", karakter superhero lokal khas Palembang, bersiap melompat dari layar media sosial menuju panggung teater, dalam pergelaran bergengsi Festival Batanghari Sembilan.

‎​PALEMBANG - Kreativitas putra daerah Sumatera Selatan kembali membuktikan taringnya di panggung seni pertunjukan. Animasi viral "Cuko Boy", karakter superhero lokal khas Palembang, bersiap melompat dari layar media sosial menuju panggung teater, dalam pergelaran bergengsi Festival Batanghari Sembilan.

‎​Karya magis ini akan dibawakan dengan manis oleh Sanggar Seni Usang Sungging, di bawah binaan hangat Tim Kesenian Kabupaten Ogan Ilir. Mereka dijadwalkan tampil memeriahkan suasana di Gedung Taman Budaya Jakabaring, Palembang, pada 16 Juli 2026 mendatang.

‎​Di balik topeng dan jubah sang superhero, ada tangan dingin Kiki Juliansah, atau yang lebih akrab disapa Kiju. Pria berbakat kelahiran Tanjung Batu, 3 Juli 1987, yang kini menetap di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) ini, merupakan sosok genius di balik karakter Cuko Boy.

‎​Kiju bukanlah nama baru dalam industri kreatif lokal. Ia telah melahirkan banyak karya yang menyentuh hati netizen, mulai dari gubahan musik yang asyik hingga animasi-animasi jenaka yang kerap viral seperti aksi kocak Cuko Boy dan Ultraman di Jembatan Ampera. Lewat karyanya, Kiju berhasil membalut identitas budaya Sumsel dengan kemasan modern yang memikat mata generasi muda.

‎​Apresiasi mendalam datang dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Ilir, Sayadi, S.Sos., M.Si. Rasa bangga terhadap karya putra daerah inilah yang menginspirasi dirinya untuk membawa Cuko Boy ke level yang lebih tinggi.

‎​"Inilah yang mendasari kami untuk memilih dan mengadaptasi karakter Cuko Boy yang viral di medsos ke dalam bentuk seni teater," ujar Sayadi dengan penuh semangat.

‎​Langkah berani ini menjadi bukti nyata bahwa seni digital dan tradisi teater daerah bisa berjalan beriringan secara harmonis. Transformasi Cuko Boy dari animasi menjadi seni pertunjukan panggung ini diharapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga memercikkan api inspirasi bagi para kreator muda Sumatera Selatan untuk terus berkarya membawa nama daerah.

‎​Jangan lewatkan keseruannya, mari kita menjadi saksi aksi jenaka dan heroik Cuko Boy yang siap memikat hati kita semua di Jakabaring.(rna)